Selamat Datang di Website DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN ACEH

Spudnik Sujono Sebut Iklim Pengaruhi Harga Cabai Rawit

Kategori : Nasional Sabtu, 14 Januari 2017 - Oleh Ibrahim

Jakarta – Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Spudnik Sujono menjelaskan bahwa iklim La Nina yang intensitasnya tinggi atau ekstrim akhir-akhir ini berpengaruh sekali terhadap harga cabai, khususnya cabai rawit merah, terutama dari sisi terganggunya pembungaan serta proses pematangan buah yang terlambat atau tertunda.

“Untuk cabai rawit yang biasanya panen seminggu dua kali bisa sekali yang berakibat pada suplay dan produktifitas terganggu karena curah hujan yang intensitasnya tinggi,” kata Spudnik Sujono di kantornya, Jumat (13/1/2017).
Namun demikian, dengan harga yang tinggi di Jakarta, kata Spudnik, bisa pula berakibat positif kepada para petani karena ikut menikmati keuntungan. “Ada seorang petani yang kebetulan juga dia sebagai pengumpul mengatakan kepada saya, ‘Pak Dirjen, biar kami nikmati dululah’. Hasilnya, dia membeli mobil Toyota Yaris. Tapi pemerintah kan tidak demikian, saya harus menata petani untung dan di tingkat konsumen juga terjangkau,” kata Spudnik.

Tapi kemudian, kata Spudnik, untuk mengantisipasi iklim hujan, pihaknya sebenarnya sudah mensosialisasikan dan menganjurkan para petani cabai supaya menanam cabai yang tahan hujan jika cuaca akan ekstrim. "Saya sudah bersurat ke daerah tanggal 22 September menginformasikan bibit bawang merah dan cabai yang tahan hujan. Saya mengingatkan agar memilih bibit-bibit yang tersedia yang tahan iklim," terangnya.

Dijelaskan Spudnik, sebenarnya cabai rawit itu bisa dikatakan sebagai pelengkap saja karena tidak banyak yang memakan. Cabai rawit hanya untuk meningkatkan tingkat kepedasan saja. “Per tahun, konsumsi cabai rawit 1,26 kilo gram per kapita. Kalau per bulannya 0,105 kilo gram per kapita. Jadi, hanya 35 gram saja per hari, sama dengan 5 - 6 biji. Makanya kalau buat sambal bumbu dasarnya adalah cabai keriting. Bahkan buat rendang bukan cabai rawit,” paparnya.

Menyoal masalah tambah tanam dalam rangka memenuhi kebutuhan bulanan produk hortikultura, khususnya cabai, Spudnik membantah keras jika dikatakan tidak memiliki manajemen untuk mengatur hal tersebut. “Begitu saya dilantik menjadi Dirjen Hortikultura, saya langsung susun pertama kali adalah manajemen taman. Produksi untuk Januari harus ditanam di Oktober untuk cabai, produksi Februari harus ditanam November, baru kebutuhannya harus saya penuhi lebih dari kebutuhan itu atau luas tanamnya. Ini sudah kami lakukan. Tapi karena terjadi hujan yang tinggi, maka suplay dan produktifitasnya terganggu,” terang Spudnik.

Jadi, tambahnya, dari sisi perencanaan pertanaman sudah betul-betul dipenuhinya seperti pertanaman Oktober itu harus 15 ribu hektar lebih. “Karena di bulan Januari kebutuhannya 68 ribu ton lebih. Jadi, ini harus diimbangi dengan luas taman,” ujar Spudnik Sujono.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Engartiasto Lukita juga mengakui bahwa harga cabai rawit merah saat ini masih tinggi diakibatkan oleh iklim atau cuaca dan juga oleh pemberitaan yang terus menerus. “Jadi memang harga itu tergantung dengan iklim. Itu memang tak bisa dilawan. Dengan kondisi seperti itu dan kita kan masih ada alternatif lain yaitu cabai rawit hijau,” kata Enggartiasto Lukita kemarin saat meninjau Pasar Jatinegara, Jakarta Timur.

Bahkan stok cabai pun dijelaskannya masih aman, bahkan ada ada surplus. “Contohnya cabai merah keriting, cabai rawit hijau surplus karena harganya terjamin. Tetapi kalau cabai rawit merah, karena demandnya (jumlah barang) tidak besar maka jumlah yang nanam juga tidak besar. Dari sisi jumlah suplai dan demand, itupun sebenarnya secara teoritis dia oper suplai,” papar Enggartiasto.

Tetapi karena kondisi iklim hujan, terang Enggartiasto lagi, maka ada pemaksaan untuk dipetik yang berakibat banyaknya cabai rawit merah dengan cepat membusuk. “Kalau dia busuk, maka petani terpaksa menjual dengan murah untuk digiling. Itulah sebabnya dia mengkompensasi dengan penjualan berikutnya atas kerugian yang dideritanya,” kata Enggartiasto. RMT

 

Sumber : https://www.betaenews.com