===========>>> SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN ACEH <<<===========

11.075 Ha Tanaman Padi Kebanjiran

Kategori : Berita Selasa, 12 Desember 2017 - Oleh Ibrahim

BANDA ACEH - Sebanyak 12.734 hektare (Ha) lahan tanaman pangan berupa padi, jagung, dan kedelai se-Aceh terkena banjir awal bulan ini. Data itu sesuai laporan sementara Dinas Pertanian Kabupaten/Kota ke Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh.

Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Perkebunan Aceh, Drs Hasanuddin Darjo melalui Kabid Produksi, Ir Mukhlis menyampaikan hal ini kepada Serambi di ruang kerjanya, Senin (11/12). “Dari tiga jenis tanaman pangan tersebut, areal paling luas sementara ini adalah tanaman padi mencapai 11.075 hektare. Sedangkan jagung 1.401 hektare dan kedelai 224 hektare,” kata Mukhlis.

Mukhlis merincikan tanaman padi terbanyak kebanjiran, Aceh Utara mencapai 7.885 hektare, termasuk yang siap panen, seperti di Kecamatan Lhoksukon yang usianya 70-100 hari. Sedangkan luas sawah yang terkena banjir mencapai 1.865 hektare. Namun hingga kemarin, Dinas Pertanian setempat belum melaporkan jumlah areal tanaman padi yang mau panen itu sudah puso atau tak bisa dipanen lagi.

“Di Kecamatan Matangkuli, usia tanaman padi yang terkena banjir berusia 95-115 hari dengan luas areal 164 hektare. Sedangkan di Sama Tiga Aron, usia padi yang terkena banjir 80 hari dengan luas sawah 395 hektare, Lapang baru bermur 75 hari, luas areal yang terkena 130 hektare. Ada juga yang baru ditanam atau berusia 22 hari di Kecamatan Lhoksukon yang luasnya mencapai 1.850 hektare,” sebut Mukhlis.

Setelah Aceh Utara yang terluas sawahnya kebanjiran, disusul Bireuen 2.013 hektare, Aceh Timur 1.127 hektare, dan Aceh Barat 50 hektare. “Namun, dari 11.075 hektare yang terkena banjir, baru beberapa daerah yang melaporkan tanaman padi di lokasi itu puso. Antara lain Bireuen 336 hektare dari 2.013 hektare yang terkena bencana banjir. Sedangkan Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Barat belum melaporkan tanaman padinya yang puso,” jelas Mukhlis.

Padahal, menurut Mukhlis laporan padi puso akibat banjir itu diperlukan untuk mendapat bantuan benih dari Gubernur Aceh 25 Kg/hektare.. Mukhlis juga menyebutkan selain yang sudah hampir panen, banjir juga menghanyutkan benih padi yang baru disemai dari ribuan hektare sawah di sejumlah kabupaten/kota, namun untuk yang masih berbenih, pemerintah tak menggantikan benih lain karena belum ada aturan untuk itu.

Muklis menjelaskan untuk mendapat bantuan benih padi gratis dari Gubernur Aceh, Bupati/Wali Kota harus membuat surat pernyataan banjir daerah, di samping juga melaporkan luas sawah yang terkena musibah ini, sehingga padi puso. “Kemudian Tim UPTD Balai Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi turun ke lapangan melakukan identifikasi dan memverifikasi calon penerima dan lahan. Kemudian membuat SK, baru benih bisa disalurkan yang saat ini stoknya masih ada 100 ton,” jelasnya.

Selain mendapat bantuan Pemerintah Aceh, jika petani melalui kelompok ikut mengasuransikan tanaman padi miliknya melalui asuransi PT Jasindo, maka tanaman padi yang puso diganti Rp 6 juta/hektare oleh PT Jasindo. Sedangkan premi asuransi ini Rp 180.000/hektare, namun hanya Rp 36 ribu/hektare yang dibebabnkan ke petani. Sisanya Rp 144 ribu disubsidi pemerintah.

 

Sumber : http://aceh.tribunnews.com