===========>>> SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN ACEH <<<===========

Program Perbaikan Jaringan Irigasi Perlu Ditingkatkan

Kategori : Sains Senin, 17 September 2018 - Oleh admin01

Banda Aceh (13/9)| LUAS areal persawahan irigasi di Aceh dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, tahun 2009 luasnya masih berkisar 252.864 hektare (ha). Lima tahun kemudian (2014) menyusut 57.409 ha menjadi 195.455 ha, dan tahun 2016 turun lagi sebesar 4.088 ha menjadi 191.367 ha.

Berdasarkan informasi dari pihak dinas, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadi penyusutan areal persawahan irigasi ini. Antara lain disebabkan banyaknya jaringan irigasi teknis yang telah lama rusak dan belum ditangani hingga sekarang. Selain itu, areal persawahan juga banyak yang dialihfungsikan menjadi lahan pertokoan, perkantoran, rumah sakit, perumahan, fasilitas umum seperti SPBU, pergudangan dan lainnya.

Pengurangan areal sawah ini tidak hanya terjadi pada sawah irigasi, tetapi juga pada sawah nonirigasi. Pada tahun 2009, luasnya masih berkisar 57.518 ha, tujuh tahun kemudian berkurang seluas 41.651 ha (35,94%) menjadi 115.867 ha. Upaya pemerintah menekan penyusutan tersebut melalui program pencetakan sawah baru juga masih belum maksimal. Setiap tahun, kalaupun ada penambahan, hanya berkisar 500- 1.000 ha saja.

Menyikapi hal ini, Ketua DPRA, Tgk Muharuddin SHI MM lantas mengajak Kepala Dinas Pengairan Aceh, Ir Mawardi melihat kondisi jaringan irigasi, bendungan dan waduk yang sudah lamarusak dan belum tertangani. Baik yang merupakan kewenangan kabupaten, provinsi, maupun pusat.

Salah satunya adalah jaringan Irigasi Darul Aman, Kecamatan Seuneddon, Aceh Utara. Menurut Muharuddin, jaringan irigasi tersebut sudah lama rusak. Akibatnya, ratusan hektare sawah petani yang sebelumnya berstatus sawah irigasi, beralih fungsi menjadi sawah nonirigasi atau tadah hujan. Kondisi ini terjadi di Gampong Darul Aman, Matang Jeulikat, Tanjung Geulumpang, Cot Patsa, Meunasah Sago, Cotrung, Matang Penyet, Matang Puntung dan gampong lainnya.

“Kami mengajak Kepala Dinas Pengairan Aceh untuk melihat permasalahan yang terjadi di lapangan dan membuat program penanganannya, agar keenam desa itu pada tahun depan bisa kembali melakukan penanaman padi dua kali dalam setahun,” kata Muharuddin. Kasus seperti ini lanjut Ketua DPRA, terjadi di hampir semua kabupaten yang memiliki bendungan dan jaringan irigasi.

Bahkan ada satu kasus dimana bedungan irigasi telah selesai, tapi jaringan air untuk menuju ke sawah belum dibangun. Pada akhirnya, bendungan irigasi yang dibangun itu justru sama sekali tidak memberi manfaat bagi masyarakat. “Mengapa penurunan jumlah penduduk miskin di Aceh, berjalan sangat lamban, padahal alokasi dana pembangunannya cukup besar mencapai Rp 15 triliun lebih per tahun? Hal ini disebabkan banyak program pemberdayaan ekonomi masyarakat skala besar yang sudah dibangun, tapi belum memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelas Muharuddin.

Atas dasar itu, dirinya selaku Anggota DPRA dari daerah pemilihan Kabupaten Aceh Utara, dalam pembahasan Plafon Prioritas Anggaran ementara (PPAS) mengusulkan pokokpokok pikiran dengan mengusulkan kepada Pemerintah Aceh melalui Dinas Pengairan Aceh, untuk segera menyusun program perbaikan jaringan irigasi, bendungan dan waduk yang terdapat di wilayah Aceh Utara dan Lhokseumawe pada tahun depan.

“Kenapa harus Pemerintah Aceh yang menangani perbaikan jaringan irigasi yang rusak? Karena jika berharap dari dana APBK Aceh Utara tidak ungkin, untuk belanja rutin saja Pemkab masih kesulitan anggaran,” demikian Tgk Muharuddin.

 

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul :
"Program Perbaikan Jaringan Irigasi Perlu Ditingkatkan".