===========>>> SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN ACEH <<<===========

Respons Petani soal Metode Baru BPS Tentukan Data Produksi Beras

Kategori : Kementerian Kamis, 08 November 2018 - Oleh datintan

 

Jakarta | Terbitnya data baru produksi beras metode Kerangka Sampling Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) ditanggapi Ketua Umum Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir.

Menurutnya, kalangan petani khawatir bahwa data baru yang memprediksi jumlah produksi beras sepanjang tahun 2018 itu akan membuat pemerintah memutuskan kembali melakukan impor beras.

"Saya ditanya, mengganggu nggak? Kalau mengganggu nggak, cuma saya keserempet. Kalau data begini kan harus segera impor, itu yang kami keberatan", ujar Winarno dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/3/2018).

Winarno ingin bertani dan mendapat untung dari usaha pertaniannya. "Jadi begini, petani itu maunya berusaha tani dengan tenang dan menguntungkan. Sudah cuma segitu-gitunya. Waktu tanam butuh air ada air, butuh bibit ada bibit, butuh pupuk ada pupuk, kalau ada hama butuh pestisida ada pestisida, jadi kebutuhan petani itu ada. Berusaha dengan tenang, dan menguntungkan. Saat jual, ada hasilnya. Kalau tidak ada hasilnya untuk apa?" jelas Winarno.

Dia mengaku banyak menerima keluhan dari petani. Di saat itu dia pun mengimbau petani untuk tetap bekerja keras. "Kita perkuat pertanian, agar tidak banyak impor beras. Supaya memberi keuntungan bagi petani," pungkasnya kepada petani.

 

Winarno yang berpengalaman memimpin kelompok tani sejak merampungkan studinya dari Sekolah Tinggi Pertanian ini menyampaikan, petani yang sedang semangat melakukan upaya-upaya dalam usaha pertaniannya, mendadak kecewa jika mendengar pemerintah mengimpor beras.

"Kalau bahasa pepatahnya mah, karena nila setitik, rusak sebelanga. Udah dipupuk bagus, sampai (Kementan) membantu mesin panen dan lain-lain, pengering juga akan dikasih. Tapi kalau impor kayak gimana kecewanya," tambahnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) era Kabinet Bekerja, menurutnya sangat terlihat usahanya dalam mendukung dan membantu keperluan petani.

 

"Saya kan pernah diajak Pak Menteri (Amran Sulamaiman) kunjungan ke daerah. Cuma kuat maksimal 3 hari. Setelah itu saya izin, Pak Menteri saya ada agenda KTNA. Sementara pak Menteri itu nggak kelihatan lelah mengunjungi petani," ceritanya Winarno.

Sementara itu, Kementan menyebut luas lahan pertanian juga terus diupayakan bertambah, salah satunya pencapaian program Upaya Khusus (Upsus) diklaim berhasil menambah luas tanam padi di Kabupaten Sragen. Pencapaian luas tambah tanam padi periode Oktober 2017 - September 2018 seluas 109.208 ha atau surplus 6.400 ha.

"Dengan capaian ini, Sragen meraih peringkat kedua se-Jawa Tengah", kata Direktur Jenderal Hortikultura Dr. Suwandi selaku Penanggungjawab Upsus Pajale Tingkat Provinsi Jawa Tengah.

 

Prestasi ini, tambahnya, berkat perluasan tanam padi gogo hingga 5.250 hektare. "Diharapkan prestasi capaian ini ditularkan kepada Kecamatan lain sehingga berdampak luas pada peningkatan produksi padi," ujar Suwandi.

Suwandi juga memaparkan beberapa strategi untuk menggenjot produksi padi di Sragen. Pertama, melakukan tabela (tanam benih langsung) padi gogo pada saat musim gadu dan disaat air terbatas Kedua, mengembangkan pola tumpangsari berbagai tanaman dan palawija. Ketiga, percepat tanam dengan sistem methuk, serta keempat pemanfaatan pematang sawah untuk ditanam jagung, kacang, kedelai, refugia dan lainnya.

Dengan upaya-upaya ini, ia berharap akan menambah produksi padi dan memperkuat ketersediaan beras nasional. Sehingga petani tak perlu lagi khawatir harga hasil taninya anjlok tertekan beras impor. 

 

Artikel ini telah tayang di finance.detik.com dengan judul Respons Petani soal Metode Baru BPS Tentukan Data Produksi Beras