===========>>> SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN ACEH <<<===========

Stok Menipis, Harga Minyak Pala dan Nilam Naik

Kategori : Daerah Jumat, 01 Februari 2019 - Oleh Ibrahim

 

BLANGPIDIE | Persediaan minyak pala dan nilam di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menurun secara drastis. Kondisi ini mendorong kenaikan harga walau pergerakannya masih sangat lamban.

Turunnya stok dikarenakan areal tanaman pala banyak yang mati akibat diserang hama penggerek batang, sehingga mengakibatkan produksi pala basah di tingkat petani berkurang. Eksesnya, pengusaha pun kesulitan memperoleh bahan baku untuk penyulingan.

Catatan Serambi, harga minyak pala di Abdya pernah mencatat rekor tertinggi pada tahun 2013 dan 2014 yang menembus angka Rp 1.050.000 perkilogram. Demikian juga dengan harga minyak nilam juga pernah di atas Rp 1 juta perkilogram.

Namun, kemudian harga komoditas unggulan itu lambat laun mengalami penurunan. Meskipun sesekali sempat meningkat, tapi itu bersifat sementara cenderung fluktuatif atau naik turun. Malahan, ketika nilai tukar dolar AS menguat belakangan ini, ternyata tidak berdampak besar terhadap kenaikan harga minyak pada dan nilam tersebut.

Toke Asie, salah seorang pedagang hasil bumi di Blangpidie, Abdya yang dihubungi Serambi, Kamis (31/1), mengakui, bahwa persediaan minyak pala dan nilam semakin menipis. Sekitar empat tahun lalu, sebut Toke Asie, pihaknya mampu mengumpulkan belasan drum minyak pala (satu drum isi 200 kg) per bulan.

“Tapi sekarang ini, tiga drum saja sulit. Demikian juga minyak nilam, dulu ketika harga melambung, bisa terkumpul minimal 3 drum per bulan, namun sekarang satu drum tidak bisa diperoleh,” ucapnya. “Petani terkesan malas menanam nilam, baik di Abdya maupun di Aceh Selatan. Makanya, di pasaran tampak sepi sekali,” imbuh Toke Asie yang sudah belasan tahun menekuni bisnis minyak pala dan nilam.

Harga minyak jenis astiri itu, diakui Toke Asie, juga mulai meningkat, meskipun pergerakannya sangat lamban. Harga minyak pala yang ditampungnya dari pedagang penyulingan, beber dia, pada bulan ini dibandrol sekitar Rp 650.000 perkilogram dan minyak nilam ditampung seharga Rp 600.000 per kg.

Harga tersebut mengalami peningkatan sedikit dibanding September 2018 lalu, di mana minyak pala ditampung Rp 600.000/kg dan minyak nilam seharga Rp 500.000/kg.

Toke Asie memaparkan, minyak pala dan nilam yang dikumpulkan pedagang di Abdya dan Aceh Selatan selanjutnya dijual kepada pengusaha eksportir di Medan, Sumatera Utara dan Padang, Sumatera Barat. Lalu, komoditas unggulan itu diekspor ke negara Uni Eropa.

Karenanya, menurut Toke Asie, harga minyak pala sangat ditentukan permintaan pasar luar negeri. “Tingkat harga rentan naik turun karena sangat tergantung permintaan pasar luar negeri, terutama Amerika Serikat, beberapa negara Uni Eropa, termasuk Singapura,” ulasnya.

[◦ˆ⌣ˆ◦]


Artikel ini telah tayang di sini