===========>>> SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN ACEH <<<===========

Atasi Kekurangan Air, Petani Panteraja Andalkan Peralatan Ini

Kategori : Daerah Senin, 29 April 2019 - Oleh datintanbun

Salah satu pompa air untuk memasok air ke persawahan Pante Raja, Pidie Jaya.

Meureudu (9/4) | Kendati lebih 20 tahun silam, pemerintah sudah membangun sebuah irigasi tehnis di kawasan Jiemjiem, Kecamatan Bandarbaru, Pidie Jaya atau lebih dikenal dengan sebutan daerah irigasi (DI) Cubo juga untuk kebutuhan air bagi petani Panteraja, Pidie Jaya, namun petani Panteraja sudah berkalang tahun menyuplai air dari sungai dengan cara menyedot pakai mesin.


Penyedotan air menggunakan pembangkit atau mesin lalu dialirkan ke sawah melalui saluran, kata sejumlah petani Gampong Masjid dan Gampong Teungoh Panteraja, pembayarannya dilakukan setelah panen. Petugas mengutip retribusi air sebanyak 70 kilogram per-naleh luas sawah atau 0,25 hektare.

Jika harga gabah Rp 4.300 per-kilogram, berarti petani harus mengeluarkan biaya Rp 301.000 atau Rp 1.204.000 untuk luas lahan satu hektare (setera 10.000 meter persegi). Berat memang, tapi apa boleh buat, nasib kami di Panteraja, ketus seorang petani lainnya dengan prihatin. “Namanya saja irigasi tehnis yang katanya air juga untuk Panteraja, tapi air tak pernah kami rasakan,” timpalnya lagi. Luas lahan yang diairi pakai mesin ini, kata Fakhri, salah seorang warga Gampong Masjid kepada Serambinews.com, kurang lebih 40 hektare.

Air dialiri mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00 WIB. Atau disesuaikan dengan kondisi alam. Artinya, jika musim hujan ada keringanan sedikit air tidak disedot dari sungai. Tapi kalau memang musim kemarau atau hujan tak kunjung turun, ini setiap hari air dialiri ke sawah pakai mesin.

Selain Gampong Masjid, para petani Gampong Tunong Panteraja juga sudah belasan tahun mengairi sawah menggunakan mesin. Mesin pembangkit juga diletakkan di pinggiran sungai dan digunakan saat turun ke sawah.


“Jika sebelumnya petani Tunong pakai mesin yang dibeli secara swadaya , tapi belakangan mereka pakai mesin bantuan pemerintah. Entah kapan nasib kami begini,” ujar seorang petani setempat sambil berlalu, Selasa (9/4/2019). [◦ˆ⌣ˆ◦]


Artikel ini telah tayang di sini