===========>>> SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN ACEH <<<===========

Harga Kopi Arabika Gayo Mulai Turun, Ini Penyebabnya

Kategori : Berita Kamis, 23 Mei 2019 - Oleh admin01

Seorang petani kopi warga Kampung Blanggele, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah sedang memetik kopi

 

Takengon | Kopi arabika yang merupakan komoditi unggulan asal Dataran Tinggi Gayo (DTG) mengalami penurunan harga.

Rendahnya harga kopi arabika Gayo saat ini, disebabkan produksi yang melimpah serta sedikitnya kontrak pembelian kopi dari pasar dunia.

Memasuki Bulan Mei 2019, penurunan harga kopi Gayo jenis green bean grade I, ready ekspor mencapai Rp 7 ribu hingga Rp 8 ribu/kgnya.

“Salah satu faktornya, panen raya kopi arabika di daerah kita, bertepatan dengan panen kopi dunia seperti di Brazil,” kata praktisi kopi arabika Gayo, Armiyadi.

Dirincikan Armiyadi, untuk harga kopi arabika saat ini, mulai dari jenis gabah hanya berkisar Rp 28 ribu/bambu, sedangkan sebelumnya mencapai Rp 35 ribu/bambu.

Sementara untuk jenis gelondong atau biji merah, hanya sekitar Rp 90/kaleng.

“Untuk biji merah, sebelumnya dihargai sekitar Rp 140 ribu/kaleng. Itu artinya, ada penurunan sekitar Rp50 ribu,” rincinya.

Selanjutnya, kata Armiyadi, untuk kopi asalan dari harga Rp 75 ribu/kg, turun sekitar Rp 56 ribu hingga Rp 57 ribu/kg.

Terakhir, untuk kopi arabika ready ekspor, dari harga Rp 80 ribu turun di kisaran Rp 72 ribu hingga Rp 73 ribu/kgnya.

“Penurunan harga ini, baru berlangsung selama beberapa pekan terakhir,” ujar Armiyadi.

Menurut Armiyadi, jika dibandingkan dengan kondisi harga kopi dunia, kopi arabika Gayo baru saja mengalami penurunan.

Sedangkan untuk kopi dunia, penurunan harga sudah sejak Nopember 2018 lalu, dari 3,5 dollar AS menjadi 2,5 dollar AS/kg.

“Kopi kita masih tetap mahal. Terakhir, harganya menjadi 5,5 dollar As/kgnya dari sebelumnya sekitar 6 dollar AS/kgnya,” jelasnya.

Sementara itu, memasuki bulan Mei merupakan puncak panen kopi arabika Gayo. Panen ini, diperkirakan akan berakhir di bulan Juni mendatang.

Beberapa bulan setelah masa jeda, kopi arabika Gayo akan kembali memasuki masa musim di bulan September 2019 mendatang.


“Untuk bulan ini, mungkin hanya sekali panen lagi. Setelah itu, buahnya mulai berkurang,” tutur Armiyadi.

Dia menyebutkan, salah satu solusi agar petani mendapat harga baik yaitu dengan cara difungsikannya resi gudang. Keberadaan resi gudang, sangat membantu petani maupun pedagang kecil.

“Kalau resi gudang berfungsi, petani atau pedagang bisa menyimpan kopinya dengan tetap mendapat pinjaman modal. Setelah harga membaik, baru kopinya dijual,” pungkasnya. [◦ˆ⌣ˆ◦]


Artikel ini telah tayang di sini