===========>>> SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN ACEH <<<===========

GSA (Gula Sawit Aceh)

Kategori : Opini Jumat, 31 Mei 2019 - Oleh admin01

Kolase Foto Gula Sawit Aceh

 

Oleh Azanuddin Kurnia

Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis) adalah komoditas penyumbang devisa terbesar yang mencapai US$ 22,9 miliar, dikatakan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono. Sektor kelapa sawit berperan penting bagi perekonomian nasional. Pertumbuhan di sektor ini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan.

Tercatat total nilai ekspor produk sawit pada 2017 sebesar Rp 239 triliun yang merupakan terbesar dan lebih besar dari sektor minyak dan gas. Di sektor ketahanan energi, penerapan kebijakan mandatori biodiesel (Agustus 2015 sampai 30 Juni 2018) menciptakan penghematan devisa sebesar US$ 2,52 miliar atau Rp 30 triliun (nasional.tempo.co).


Walaupun demikian, tidak dipungkiri bahwa perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga sarat masalah salah satunya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, konflik lahan, perubahan vegetasi besar-besaran, kerusakan daerah aliran sungai dan lainnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Presiden Jokowi telah menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2018 mengenai moratorium atau penghentian sementara perluasan lahan sawit tertanggal 19 September 2018. Dalam Inpres tersebut, pemerintah menegaskan menghentikan sementara pemberian izin lahan sawit selama masa tiga tahun.

Inpres tentang penundaan dan evaluasi perizinan serta peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit ini di antaranya bertujuan meningkatkan tata kelola perkebunan sawit yang berkelanjutan. Lewat Inpres, pemerintah juga hendak memberikan kepastian hukum, serta menjaga dan melindungi kelestarian lingkungan termasuk penurunan emisi gas rumah kaca. Selama ini industri kelapa sawit mendapatkan sorotan karena perluasan lahan secara masif berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas karbon.

Belum berjalan baik
Menurut Kepala Departemen Kampanye dan Perluasan Jaringan Eksekutif Nasional WALHI, Khalisah Khalid, Tata kelola perizinan perkebunan kelapa sawit belum berjalan baik. Banyak izin yang tumpang tindih dan berpotensi menimbulkan konflik agraria di masyarakat. Walau demikian, upaya pemerintah melakukan moratorium izin perkebunan sawit dengan menerbitkan inpres tersebut perlu diapresiasi. Inpres itu menjadi langkah awal pemerintah untuk membenahi tata kelola perkebunan sawit (www.hukumonline).

Dalam upaya menjaga peran kelapa sawit secara berkesinambungan, pemerintah telah menetapkan kebijakan tentang penghimpunan dana perkebunan kelapa sawit seperti diamanatkan Pasal 93 UU No.39 Tahun 2014 tentang Perkebunan. Sebagai langkah implementasi telah ditetapkan PP No.24 Tahun 2015 tentang Penghimpunan Dana Perkebunan dan Perpres No.61 Tahun 2015 jo Perpres No.24 Tahun 2016 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Kepdirjenbun No.29/2017 dan berbagai aturan perubahannya tentang pedoman peremajaan kelapa sawit pekebun.

Peraturan perundangan tersebut, menjadi landasan penetapan dan teknis pengembangan perkebunan kelapa sawit secara terencana dan tepat sasaran. Kebijakan ini menyediakan landasan pengaturan skala prioritas pembangunan perkebunan kelapa sawit milik pekebun sesuai dengan kebutuhan.

Dukungan pengembangan kelapa sawit melalui kebijakan tersebut antara lain melalui kegiatan peremajaan (replanting) tanaman kelapa sawit, pengembangan sumber daya manusia, dan bantuan sarana dan prasarana. Kegiatan tersebut mengintegrasikan seluruh aspek dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit dalam rangka meningkatkan produktivitas kelapa sawit milik pekebun dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Menyahuti berbagai kebijakan nasional yang berkaitan dengan perkelapasawitan, Aceh sebagai satu provinsi yang memiliki potensi perkebunan sawit juga ikut berperan dalam meningkatkan produksi, produktivitas, dan pendapatan petani. Berbagai upaya telah dan sedang dilakukan untuk mengarah ke perkebunan yang lebih baik. Walau diakui berbagai hambatan dan tantangan juga selalu ada dalam proses perjalanan tersebut. Padahal Aceh sudah cukup tua bila dikaitkan dengan dunia persawitan.

Menurut berbagai sumber, sejak kelapa sawit mulai ditanam secara komersial dalam bentuk perkebunan pada 1911 di Sungai Liput dan Medang Ara, Kabupaten Aceh Tamiang. Sampai sekarang kita umumnya mengenal bahwa kelapa sawit menghasilkan produk panen dalam bentuk Tanan Buah Segar (TBS) yang kemudian diolah menjadi CPO (Crude Palm Oil) dan kernel atau inti sawit.

Dari CPO ini kemudian dapat diolah menjadi berbagai produk lemak nabati seperti minyak goreng, margarine, keju, sabut, kosmetik dan produk-produk lainnya. Hasil sampingan dari buah sawit adalah ampas atau bungkil sawit, yang bisa diolah menjadi pakan ternak yang mempunyai kandungan protein tinggi. Tetapi dalam tulisan ini, mencoba menyinggung sedikit hasil lain yang ada dari kelapa sawit selain yang sudah ada selama ini, yaitu berupa gula sawit.

Potensi gula sawit
Ternyata gula merah bisa dihasilkan dari batang sawit dan pembuatannya sangat sederhana serta bernilai ekonomi tinggi. Pembuatan gula sawit ini bukan penemuan baru, tetapi ternyata masih banyak orang yang belum tahu dan belum memanfaatakan hasil sampingan yang ternyata bisa menghasilkan pendapatan yang sangat besar.

Proses untuk mendapatkan nira sawit juga berbeda dengan cara mengambil nira dari aren maupun kelapa yang umumnya dengan cara menderes. Nira sawit diperoleh pada saat batang sawit sudah ditebang yang dilakukan pada saat peremajaan (replanting) dan umur tanaman sawit umumnya sudah berusia 25-30 tahun atau yang sudah tidak produktif lagi.

Proses pembuatannya juga sederhana, yaitu setelah tanaman sawit ditebang, maka batangnya yang sudah tumbang dimanfaatkan niranya untuk pembuatan gula merah. Satu batang sawit yang sudah berumur di atas 15 tahun, biasanya menghasilkan nira sebanyak 3-20 liter per 24 jam dan bisa mengeluarkan nira selama 1-3 bulan.

Hal ini tergantung pada umur tanaman, kondisi batang yang sehat dan lokasi batang sawit tersebut ditanam. Bila kita ambil rata-rata 5 liter saja per 24 jam selama 2 bulan, maka akan menghasilkan nira sebanyak 300 liter. Dari 300 liter bisa menghasilkan gula merah sebanyak 60 kg atau sekitar 20% dari nira yang ada.

Harga jual di pasaran sekitar Rp 17.000 sampai Rp 22.000/kg. Bila kita ambil rata-rata misalnya Rp 10.000/kg saja, maka dalam satu batang selama 2 bulan (60 hari) bisa menghasilkan Rp 600.000/batang. Dikali dengan 100 batang (100 batang rata-rata per hektare saja) maka dalam 2 bulan petani sudah bisa mendapatkan sebesar Rp 60 juta.


Nah, itu hanya hitung-hitungan dengan nira 5 liter per hari dan harga jual hanya Rp 10.000 di tingkat petani, bagaimana kalau mengasilkan nira sampai 15 liter per hari dan harga jual Rp 20.000/kg? Maka bisa dibayangkan, petani bisa mendapatkan penghasilan tambahan sampai Rp 200 juta/ha/2 bulan. Tentunya ini merupakan alternatif ekonomi baru bagi petani sawit yang mau menambah income dan hasilnya sangat besar. Nah!b[◦ˆ⌣ˆ◦]

*Azanuddin Kurnia, S.P., M.P., Kabid Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Distanbun Aceh, dan Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian (IKA SEP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: azanorlando@gmail.com

 

  

Artikel ini telah tayang di sini