===========>>> SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN ACEH <<<===========

Keuntungan menanti penanaman Jahe disela pertanaman kopi di Aceh Tengah.

Kategori : Kegiatan Dinas Jumat, 28 Juni 2019 - Oleh admin01

Kebun Warga yang ditanami Jahe di sela-sela tegakan pertanaman kopi di Takengon

 

Banda Aceh | Aceh tengah dengan ibukota Takengon terkenal sebagai kawasan perkebunan dan hortikultura yang sangat potensial, disamping berhawa sejuk juga terkenal dengan kopi Gayo nya. Ada salah satu komoditi hortikultura yang cukup cerah prospek pengembangan nya yaitu komoditi Jahe (Bing dalam bahasa Gayo).

Racikan secangkir kopi jahe merupakan minuman segar yang tak perlu diragukan lagi nikmat dan khasiatnya, ternyata kedua tanaman ini akrab di kebun. Jahe yang ditanam di sela pertanaman kopi memberikan keuntungan tambahan, tidak hanya kepada tanaman kopi, juga kepada petani kopi itu sendiri.

Salah seorang petani kopi yang sudah melakukan penanaman jahe di sela-sela tegakan pertanaman kopi, bapak Juli menuturkan bahwa sudah bertahun-tahun melakukan penanaman jahe di sela-sela tanaman kopi, sebenarnya bukan hanya jahe saja kami tanam, juga kunyit. Mungkin karena itu, kopi Gayo yang kami tanam punya citarasa yang khas dan unik, sehingga kopi Gayo menjadi kopi nomor satu di dunia'.(26/6/2019)

Memang tanaman jahe dan kopi tidak saling mengganggu (tidak ada alelopati), bahkan tanaman jahe menggemburkan tanah di sekitar pertanaman kopi, jadi tak ada masalah, ujar Pak Tamrin, Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kab Aceh Tengah.

Salah satu tantangan yang dihadapi petani kopi, yang bertanam jahe adalah pemasaran yang belum kontinyu dan masih terbatas untuk kebutuhan pasar lokal Takengon. Tahun kemarin 2018 sudah ada toke/ pedagang pengumpul di daerah ini, yang mematok harga jahe segar berkisar Rp.5000-6000/kg di tingkat petani, namun tahun ini tidak lagi berjalan, karena kesulitan finansial.

Tantangan yang kedua, belum adanya hilirisasi produk turunan jahe di Takengon, misalnya belum adanya jahe instan, kopi jahe instan, dan lainnya sehingga jahe belum menjadi komoditas primadona di Aceh Tengah, padahal potensinya sangat luar biasa. Bila perkebunan kopi rakyat seluas lebih kurang 50 ribuan hektar, minimal setengah nya dapat ditanami jahe atau kunyit. Demikian di tuturkan Pak Dedy, Kasie Pengembangan Hortikultura, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Moh Ismail Wahab menyatakan bahwa “Ke depan, Pengembangan Tanaman Obat, khususnya jahe harus terus dilakukan karena dibutuhkan tidak hanya sebagai bumbu dapur dan minuman beraroma jahe, juga sebagai bahan baku untuk jamu dan fitofarmaka. Apalagi, pemanfaatan obat tradisonal untuk peningkatan kesehatan masyarakat sedang digalakkan oleh Pemerintah,” (tr/dy) [◦ˆ⌣ˆ◦]

 

Sumber : Bidang Hortikultura