===========>>> SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN ACEH <<<===========

Harga Sawit Anjlok Buat Pasar ‘Kota Dagang’ Blangpidie Sepi Pembeli

Kategori : Daerah Selasa, 09 Juli 2019 - Oleh datintanbun

Ilustrasi : Sawit TBS


Blangpidie | Kota Blangpidie, ibukota Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), telah lama dikenal sebagai ‘kota dagang’ karena aktivitas perdangangan yang sangat sibuk.

Pengunjung Pasar Kota Blangpidie, bukan saja dari warga Kabupaten Abdya, melainkan banyak datang dari Kabupaten Aceh Selatan dan Kabupaten Nagan Raya, terutama pada hari libur kerja, Sabtu dan Minggu.

Belakangan ini, sepi pembeli sehingga omzet penjualan para pedagang menurun.

Daya beli masyarakat menurun, termasuk dari luar Abdya, diduga akibat anjlok harga produksi perkebunan, terutama harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang terjadi lebih satu tahun terakhir.

Demikian juga harga pala tidak kunjung membaik.

“Pasca lebaran, daya beli masyarakat sangat menurun sehingga suasana pasar tampak sepi,” kata Ruslan, salah seorang pedagang di Pasar Blangpidie.

Suasana pasar tidak bergairah, terutama pasca Idul Fitri 1440 H juga dikemukan Rizal, pedagang di Jalan H Ilyas, Blangpidie.

Pengunjung pasar sebagian besar merupakan warga kawasan Blangpidie, Susoh, Jeumpa dan Setia, sedangkan warga dari Kuala Batee, Babahrot, Tangan-Tangan, Manggeng dan Lembah Sabil sepertinya semakin jarang turun untuk berbelanja di Pasar Blangpidie.

Rizal dan Ruslan menduga suasana Pasar Blangpidie kurang bergairah akhir-akhir ini, kecuali menjelang lebaran lalu merupakan dampak terpuruk harga TBS kelapa sawit yang terjadi kurun waktu lebih setahun terakhir.

Sebab, kelapa sawit selama delapan tahun terakhir menjadi tanaman unggulan dan produksi kelapa sawit menjadi sumber pemasukan andalan sebagian warga Kabupaten Abdya, setelah produksi pala

Selain faktor harga TBS kelapa sawit terpuruk kurun waktu lebih satu tahun terakhir, suasana Pasar Blangpidie kurang bergairah karena hingga memasuki Juli 2019 ini, sebagian besar proyek pemerintah tahun 2019 belum dilaksanakan pekerjaan sehingga uang yang beredar di masyarakat sangat terbatas.

Ruslan menjelaskan, ketika harga TBS kelapa sawit pada tingkat stabil sampai awal tahun 2018 lalu mencapai Rp 1.400 sampai Rp 1.500 per kilogram di tingkat petani, suasana Pasar Blangpidie tampak ‘meriah’.

Bukan saja, suasana pasar tampak sibuk, usaha pertokoan di Blangpidie juga ramai pembeli.

Penurunan harga TBS kelapa sawit yang terjadi sejak Maret 2018 lalu dan terus terpuruk sampai titik terendah antara Rp 500 sampai Rp 600 per kg di tingkat petani sampai Juli, tahun ini ternyata berdampak buruk terhadap daya beli masyarakat.

“Harga sawit tidak kunjung membaik selama lebih satu tahun terakhir, bukan saja membuat lesu para petani, tetapi pedagang pengepul (toke sawit) sebagian mengalami kerugian besar, malah ada yang gulung tikar,” kata Wahyuni berapa waktu lalu.

Bila pemerintah tidak serius menangani persoalan jatuh harga TBS kelapa sawit yang terjadi lebih satu tahun terakhir, maka akan banyak pelaku usaha atau bisnis yang terpuruk akibat usaha yang dijalankan sulit berkembang.

Seperti dialami para pedagang di Pasar Blangpidie, dimana omzet perjualan terus menurun dikarenakan daya beli masyarakat semakin terbatas.

Terlebih lagi, para petani tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi kenyataan harga TBS kelapa sawit tidak kunjung membaik.

Sangat menyedihkan, areal tanaman kelapa sawit di lokasi medan yang sulit di kawasan Kecamatan Kuala Batee dan Babahrot, tidak dipanen lagi dikarekanakan hasil diperoleh yang mampu menutupi biaya produksi. [◦ˆ⌣ˆ◦]

 

Artikel ini telah tayang di sini