===========>>> SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN ACEH <<<===========

Minat Petani Pidie Jaya Menanam Kedelai Menurun Drastis, Ini Alasannya

Kategori : Berita Jumat, 12 Juli 2019 - Oleh Ibrahim

Petani Pidie Jaya memanen jagung

MEUREUDU | Jika sekitar tiga atau empat tahun silam, tanaman kedelai di Pidie Jaya ditemui di sejumlah kecamatan terutama Bandarbaru, Trienggadeng serta Bandardua.

Namun sejak setahun terakhir nyaris menghilang sama sekali.Sementara tanaman jagung yang sebelumnya amat sulit ditemui di sana, tapi belakangan pengembangannya semakin meluas.

Dari delapan kecamatan di Pidie Jaya, Bandardua dan Bandarbaru adalah yang terluas penanamannya.

Lalu yang menjadi pertanyaan apa alasan petani meninggalkan kedelai dan beralih ke jagung?

Sejumlah petani yang ditemui Serambinews.com dalam sepekan terakhir menyebutkan, mereka terpaksa harus ganti komoditi karena alasan tertentu.

Katanya, dari segi analisa hasil usaha bahwa, menanam jagung jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan kedelai. 

Modal yang dikeluarkan untuk tanam jagung lebih kecil ketimbang kedelai. Makanya kalau pun jagung gagal panen, tidak terlalu pusing kepala karena biaya yang dikeluarkan agak kecil.Untuk luas satu hektare, kedelai menghasilkan paling tinggi 2,0 ton dengan harga jual Rp 6.000 berarti pendapatan kotor Rp 12.000.000.

Sementara jagung, hasil yang didapat per hektare paling rendah 7,0 ton dengan harga jual terendah Rp 3.000/kg sama dengan Rp 21.000.000.

Kedelai, selain modal atau biayanyabesar, mulai dari tanam, perawatan tanaman hingga panen pun penuh tanda tanya khusus harga jual.

Harga jual kedelai paling tinggi hanya Rp 6.000 per kilogram.Sementara jagung paling rendah bisa laku dijual Rp 3.500 per kilogram.

Seperti penuturan Abubakar Sarrah, salah seorang petani Panteraja dan M Jamal, petani Gampong Kumba Kecamatan Bandardua.

Nada sama juga dilontarkan Bastun petani Gampong Reuleu yang juga Imum Mukim Paya seutuy Kecamatan Ulim.

Menurut Jamal Kumba, sejak tiga tahun terakhir, sekitar 12 gampong di Bandardua menanam jagung seusai panen padi. Petani disana, lanjut Jamal, sama sekali tak tertarik lagi menanam kedelai.

Alasannya, harga sering anjlok saat panen  hanya dibeli Rp 5.000/kg.

Bahkan sedihnya terkadang dibeli pun tidak apalagi panen kebetulan musim hujan.

Sedangkan jagung  harga jualnya tak jauh melorot dan masih menguntungkan kendati dibeli dibawah standart atau sekitar Rp 3.000/kg pipilan.

“Sekarang ini kita kasih benih gratis pun petani tak mau lagi tanam kedelai. Tapi kalau jagung , secara swadaya atau benih beli sendiri pun tidak masalah, yang penting laku dijual,” imbuh Abubakar Sarrah yang juga Kejruen chik kecamatan setempat.

Kabid Produksi Distan Pijay, Safri Sallah SP,MP yang dikonfirmasi serambinews,com membenarkan, petani Pijay sejak tiga tahun terakhir menggandrungi tanaman jagung selepsa panen padi. Kondisi demikian berubah 180 derajat dibandingkan sekitar 3 atau 4 tahun sebelumnya.

Hal itu terjadi hanya semata-mata akibat harga jual kedelai yang rendah malah sering tidak pasti sepert pengalaman sebelumnya .Harga terkadang Rp 5.000/kg. Sementara jagung petani tidak meragukannya lagi.

“Bandardua dan Bandarbaru, kecamatan terluas tanam dalam dua tahun terakhir,” imbuh Safri. [◦ˆ⌣ˆ◦]

 

Artikel ini telah tayang di sini