===========>>> SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN ACEH <<<===========

Pencurian Traktor Tangan Marak di Abdya

Kategori : Daerah Rabu, 21 Agustus 2019 - Oleh Ibrahim

Hand Traktor bantuan Pemerintah Pusat terbengkalai di halaman Dinas Infokom Pidie

BLANGPIDIE | Aksi pencurian alat mesin pertanian (alsintan), terutama jenis traktor tangan (hand traktor) baik milik pribadi maupun kelompok tani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) semakin marak. Dari lima desa di Kecamatan Kuala Batee dan Babahrot, aksi pencurian traktor tangan mencapai 13 unit.

Demikian pengakuan Syamsuwir, warga Desa Krueng Pantoe, Kuala Batee kepada Serambi, Selasa (20/8). "Jumlah itu yang terdata. Kalau data pihak keujruen, jumlah traktor tangan yang hilang karena dicuri jauh lebih banyak lagi," kata Syamsuwir.

Hand traktor yang di kalangan petani setempat disebut mesin heng, dilaporkan hilang di kawasan Desa Geulanggang Gajah, Kuta Bahagia (Jeumpa), Blang Makmur, dan Krueng Pantoe, Kecamatan Kuala Batee serta Desa Alue Peunawa, Kecamatan Babahrot.

Traktor tangan yang dibawa kabur pencuri itu merupakan milik pribadi petani dan kelompok tani bermerek Yanmar, Kubota, dan Dompeng. "13 hand traktor tersebut hilang di areal sawah dan di tempat penyimpanan selama kurun waktu sekitar satu tahun terakhir," kata Syamsuwir.

Kasus terkini, lanjutnya, menimpa hand traktor milik M Nasir Perabot, Desa Geulang Gajah, hilang, Sabtu (11/8) atau bertepatan pada hari meugang Idul Adha 1440 H/2019 M. Aksi pencurian alsintan yang belum terungkap itu sangat meresahkan petani anggota kelompok.

Dikatakan, saat ini Abdya sudah memasuki garap lahan sawah Musim Tanam (MT) Gadu 2019. Sementara hand traktor yang sudah banyak hilang membuat  kegiatan pengolahan sawah terkendala.    

Untuk menggarap lahan sawah, anggota kelompok tani harus mengupah traktor tangan pihak lain sebesar Rp 250.000 untuk sekali bajak areal sawah 1/3 hektare. Para petani mengharapkan kepada pihak berwajib untuk segera mengungkap aksi pencurian hand traktor tersebut.

Pada bagian lain, warga Desa Krueng Pantoe, Kuala Batee, Syamsuwir mengatakan, peristiwa pencurian traktor tangan itu terus terjadi karena ada penampung hand traktor hasil curian. "Penampungnya pasti ada," katanya.

Disebutkan, hand traktor dalam kondisi setengah pakai seperti itu laku dijual Rp 3 juta sampai Rp 5 juta untuk mesinnya saja. Menurutnya, hand traktor memang banyak peminatnya, terutama diolah menjadi mesin boat ikan, mesin pembangkit tenaga listrik, dan mesin las.

Diperkirakan, peminat mesin hand traktor dengan kekuatan 8,5 PK itu sangat banyak karena jauh lebih murah ketimbang membeli baru dengan harga Rp 20 juta per unit.  [ ◦ˆ⌣ˆ◦]

Artikel ini telah tayang di sini